Benak tuan masih merana memikirkan sang puan yang menurutnya indah itu, seakan dibutakan. Timbul pencarian dalam diri tuan mengingat wajah puan yang memerah malam itu.
Secepat kilat tuan kembali ke kedai pagi harinya. Namun puan tidak hadir di meja yang sama. Dia tidak nampak sama sekali hari itu. Sampai tuan kehabisan sabar menunggu hingga petang.
Tuan hanya ingin tahu pribadinya
Hanya penasaran akan imajinya pula
Tapi semua itu hampir dirombak total dengan keputusasaan. Itulah hari kedua dimana tuan memikirkan wanita itu.
Dia masih kecewa.
Esoknya, Tuan termangu di bukit sebelah rumahnya. Di sana terhampar padang rumput yang cukup luas. Beberapa hektare sudah cukup membuat tuan merasa hampa.
Imajinasinya berperan lagi
Mundur beberapa waktu di kedai yang sama
Tuan tahu mawar di sebelahnya sedang memekarkan diri, dan jejak kelinci masih hangat di tanahnya. Tuan hanya diam dan diam dan selalu diam.
"Sedang apakah tuan disana?", Tanya seorang wanita mendadak.
"Rindang pohon ini cukup meneduhkan gulungan rambut hitamku", jawab tuan.
"Maka beranikah tuan keluar dan menemaniku memberi makan para kelinci?", Sahut wanita itu seraya tersenyum.
Tuan segera mengenakan kacamatanya, dan melihat dengan jelas bahwa itulah puan, berdiri tepat di garis matanya.
Dia makin termangu.
Kedai ternyata tidak cukup membentuk suasana yang hangat. Tapi siang itu terasa hangat bagi tuan meski matahari cukup menyengat.
Sambutan hangat puan hanya dijawab kegelisahan hebat.
Sekali lagi tuan makin jatuh hati
Bukan di kedai, melainkan di padang rumput.
Tapi tetap, tuan masih bertanya dalam hatinya. Ia sungguh bingung tak menentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar