Tuan mencari cari jejak purnama malam itu ketika kabut mulai turun dibarengi lamban gesek biola yang tak menentu dari arah kedai kesukaannya.
Belakangan tuan tak mampu tidur sebagaimana mestinya, melainkan hanya sekadar gelap semata kurang lebih satu atau dua jam.
Untung saja kedai itu selalu buka dikala tuan butuh sembahan macam kopi dan gula.
Malam itu rasa-rasanya sedikit berbeda, alunan musik hanya berhenti beberapa detik di benak tuan. Tuan tahu diapun cinta musik, bahkan seorang tuan yang lugu adalah pemain klarinet kala-kala di kedai itu. Tetapi ketukan malam itu sungguh timpang di hati tuan. Matanya hanya menerka rambut lurus, mata berkaca, dan bibir yang mencemooh sedikitnya tentang hidup dan kehadiran dunia dalam benaknya.
Ya, tuan telah melihat puan di ujung meja kedai kesukannya,
Dan tuan hanya mendiamkan bibir dan pikirannya.
Pikir tuan belum saatnya,
Atau mungkin pikir tuan, ia tidak mampu. Sebab benak tuan berkehendak namun fisiknya lemas tanpa alasan jelas.
Jelas, tuan telah jatuh hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar